Cara Berpikir Orang Tua vs Anak

Mau sedikit membahas tentang Pola Pikir, terkait ada beberapa kejadian yg membuat otak saya berpikir lumayan “waras” hihhii

Cara berpikir orang tua dan anak biasanya bertolak belakang (sebagian besar), ini terutama anak yg berusia dibawah 20 tahun yaa..
Pola pikir akan berubah sesuai usia.

Orang tua selalu memikirkan kebahagiaan si anak, sedangkan Anak hanya memikirkan kebahagiaan sendiri.
Saat orang tua berpikir apa yg harus dilakukan untuk bisa mendukung anaknya, si anak disaat yg sama memikirkan apa yang “orang tua” saya lakukan untuk “saya” ya..

Anak memiliki ego yg cukup besar, “ke-aku-an” yg dominan.
Sampai dimana dia mulai dewasa, mulai ingin membahagiakan orang lain selain dirinya, dari situ kesadaran dan keegoan nya mulai menurun..

Dan orang tua dengan sabarnya menunggu sampai saat itu tiba…

Jadi, bila saat ini kamu masih memikirkan diri sendiri, belum memikirkan orang tua, maka kamu belum memiliki orang lain yg ingin kamu bahagiakan..

Dewasa-lah 😊

*menulis ini sambil liat ortu yg lg diskusi buat acara cucu nya*
*sambil berpikir, kapan mereka mikirin diri sendiri?*

N-Y-A-M-U-K

Ada yg berpikir judul diatas adalah singkatan?
Selamattttt… anda terlalu banyak berpikir hihihi..

Musuh saya selain ular, kelabang dan kaki seribu adalah Nyamuk.
Kadang mikir juga sih, kenapa nyamuk?

Yah yang pasti karena dia menggigit dan menimbulkan gatal.
Gatal nya ini yg gak tahan 😦

Tapi terkadang saat keinginan untuk “donor darah” saya cukup tinggi, saya menahan rasa gatal dan  menahan keinginan menggebu untuk memukul, memencet dan menghancurkan tulang belulang nya, hanya untuk membiarkannya menghisap darah sampe kenyang, ga bisa terbang lagi sampai-sampai mengangkat sayap pun ga sanggup.

Dan karena saya tau, sebentar lagi dia akan mati #edisiSADIS

Sekian!

#EfekLiburDiRumahAjah

Penyalahgunaan Kalimat

Sepertinya mood saya kurang bagus sekarang. Tapi daripada saya berkoar-koar tidak jelas di sosial media atau dimanapun, mending saya menulis disini kan?? 😀

Ada beberapa percakapan yg saya ga tau gimana harus melanjutkan apabila sudah muncul kalimat-kalimat ini:
>>waduh maaf, anak ku sakit
>>inshaaAllah ya
>>mungkin bukan rejeki
>>sebenarnya mau tapi belum sempat
dan seterusnya…

Terlalu sering mendengar kalimat-kalimat itu pada orang yg sama dan lalu melihat sosial media mereka berlawanan dengan apa yg menjadi alasannya membuat saya mau ga mau berpikiran negatif..

Sifat orang timur mungkin ya yg susah mengucapkan kata penolakan.
Orang-orang barat, mereka lebih terbuka untuk bilang “tidak”

Jadi ingat ceramah pagi di salah satu stasiun TV yg membahas kata “inshaaAllah”.
Menurut beliau, penyebutan kata InshaaAllah itu apabila kita 99% menyetujui dan 1% nya diserahkan kepada Allah.

Kita, manusia, kadang mengucapkan InshaaAllah yg sebenarnya “gak pingin”datang.

Misal:
Tanya: Besok datang ya ke acaraku?
Jawab: InshaaAllah
(Dalam hati, males ah, besok mau ke mall)
Lah, kenapa gak bilang aja “maaf ga bisa datang ya”

Hanya sebuah renungan untuk diri sendiri agar menjadi lebih baik.

Silakan orang lain melakukan kesalahan, tapi kita JANGAN..

Berusahalah untuk menjaga lisan menjadi lebih baik disetiap detik nya..

**efek merasa dah tua**
#AllAboutMe