A Death In Vienna

death-in-vienna.jpgA Death in Vienna

Diterjemahkan dari judul asli Mortal Mischief karya Frank Tallis.
Penerjemah Esti A. Budihabsari
Diterbitkan oleh penerbit Qanita

Review dari buku ini sudah diceritakan oleh mba-ku. Jadi disini aku ga mereview banyak-banyak lagi 🙂
Biasanya aku cuma bisa membaca dan lalu mendiskusikan ama temenku. Kali ini aku mau mencoba menulis apa yang kami diskusikan.

Menurut ku, buku ini merupakan cerita kriminal dengan balutan misteri. Dilihat dari kata-katanya, kadang aku agak bingung dengan bahasanya… tapi walaupun begitu aku masih bisa membacanya dengan cepat 😀 (maksudnya…. 😕 )
Cerita pendek dengan alur maju mundur di tiap bab dengan berbeda tokoh dan cerita. Terus terang dengan model cerita ini, aku jadi bingung sendiri dan terpaksa harus membolak balik lagi halaman di depannya untuk lebih dapat mendalami tokoh yang dikisahkan, namun ini juga membuatku jadi penasaran untuk mendapatkan kisah yang lebih seru dari bab-bab itu.
(bener ga sih bilang nya bab??? Sorry… ga ngerti namanya apa, maksudnya di judul baru itu lah… hehehe)

Sekarang membahas tentang tokoh-tokohnya…. (menurut versi aku aja ya… agak spoiler juga sie hehehehe )
Maxim Lieberman.. Seorang dokter, psikiater tepatnya… Sangat mengagumi musik klasik.. -Orchestra…- yang lumayan kritis menurutku, hebat… dengan ketajaman pemikirannya. Dan sepertinya, dalam hidupnya, ilmu tentang psikologi selalu dia terapkan dalam kehidupannya. Hanya dengan memperhatikan Inspektur Oscar Rheinhardt dalam menyanyikan lagu, dia tau yang dipikirkan oleh inspektur itu yaitu tentang pembunuhan Charlotte Löwenstein. Hebat kan……. Tapi agak bodoh juga sie, ga berpikir panjang, bayangin deh.. dia berani-beraninya mencoba membuat pelaku pembunuhan –yang gede, kuat & kekar, Hans Bruckmüller– mengaku di tempat yang tinggi banget, di Riesenrad… (semacam kereta gantung… bener ga pemahamanku???) yang bagaimanapun pembunuh itu bertenaga yang mengerikan juga melihat cara dia membunuh Karl Uberhorst. Jadi geleng-geleng kepala….

Sempat berpikir, apa bener sih dia ga baca koran tentang pembunuhan itu???

Inspektur Oscar Rheinhardt, seorang polisi yang setia dan begitu sayang ama keluarga. Tidak egois dengan mau mendengarkan masukan yang diberikan orang lain… Fleksibel juga… dibandingkan dengan Victor Van Bulow, seorang polisi yang sombong –yang katanya keturunan bangsawan- dengan selalu mengikuti protokol dan prosedur. Dan untuk mencari tersangka hampir sama dengan ”petugas” jaman sekarang yaitu menangkap tersangka terus memaksanya untuk mengaku, padahal kan belom tentu dia nya salah. Bisa aja mengakunya karena terpaksa.. Dipukuli……

Lanjut…
Amalia Lydgate, seorang gadis yang dilecehkan oleh Pendeta Schelling, tempat dia menginap & sebagai pengasuh anak-anak pendeta tersebut. Pendeta Schelling sepertinya ada ”kelainan” juga, karena setiap pembantunya ga bertahan lama disana dan selalu berhenti dengan alasan yang ga jelas. Kasihan istrinya…. Lah kok ngomongin Pendeta Schelling sie… kembali ke Amalia Lydgate.
Aku termasuk orang yang agak bertanya-tanya tentang Miss Lydgate ini. Dia kok pinter banget… Apa ga berlebihan tuh… Dia bisa menduga masalah pembunuhan yang terjadi -hanya dari mendengarkan cerita dokter Liebermann- berasal dari kunci. Setelahnya, dia bisa menganalisa kunci itu dibuka dengan menggunakan alat hanya dengan melihat pola yang dia lihat menggunakan mikroskop yang sebelumnya dia gunakan untuk melihat darah.. Emang bisa yah… Wah, aku harus belajar nih cara yang begini 🙂
Dia juga tau bahwa peluru yang ditembakkan bukan peluru biasa tapi ada 2 kemungkinan, yaitu pertama dengan proyektil es-air biasa yang dibekukan dalam selongsong peluru, bisa dimasukkan dalam sebuah revolver dan digunakan sebagai amunisi-, kedua dengan peluru yang terbuat dari tulang dan daging yang dimampatkan yang bila ditembakkan akan pecah dengan sendirinya.
Yah, mungkin pengetahuan ini dia dapet dari hasil membaca makalah tentang kalkulus lintasan peluru dan berkonsultasi dengan pembuat makalah, Profesor Holz. Tapi dari pengetahuan mana dia bisa mengetahui kemungkinan peluru-peluru itu yah????

Selain masalah pembunuhan, diceritakan juga masalah percintaan antara Maxim Libermann dengan Clara, yang mana sepertinya Maxim Libermann membandingkan Clara yang masih seperti anak-anak, suka ngegosip dan banyak ngomong dengan Miss Lydgate yang pendiem, smart dan punya kecantikan alami. Tapi menurutku, awal dokter Libermann menyukai Miss Lydgate adalah saat sosok Katherine keluar dari Miss Lydgate saat dia terhipnotis… Cara jalan & cara Katherine membetulkan pakaiannya sepertinya memancing perasaan yang lain dari dokter Libermann ini. Juga cerita tentang Sabina Rupius dengan Stefan Kanner, cerita tentang kesukaan seorang suster terhadap dokter nya, cerita seperti ini di dunia nyata banyak deh kayaknya 🙂 Mungkin pengalaman dari penulisnya atau cerita dari pasien-pasien nya.

Ada juga tentang teori-teori Profesor Wolfgang Gruner yang menggunakan elektroterapi untuk pengobatan histeria tanpa disertai dengan pendekatan psikologis yang mana kadang terlalu memaksakan pengobatan itu dengan menaikkan setrumnya…. menyakitkan banget… seperti yang dicobakannya pada Signora Locatelli, istri diplomat Italia, yang akhirnya bunuh diri karena ga kuat menahan pengobatan itu.
Mungkin kalau dokter Libermann dan Profesor Gruner ini bekerja sama maka pasien-pasien histeria itu bisa cepat sembuh.. mungkin……

Hmmm.. cerita lengkap tentang tokoh yang lain seperti Karl Uberhorst -si tukang kunci-, Natalie Heck -si penjahit-, Otto Braun, Heinrich Hölderin, Juno Hölderin, Hans Bruckmüller, Cosima Van Roth, Zoltán Záborszky dan yang lainnya dibaca sendiri aja deh ya…

Kebanyakan ga ya aku ngebahasnya….. 😕 Ya sudahlah…. yang terjadi-terjadilah… 😀

Advertisements

2 responses to this post.

  1. horeee…. review buku, dirimu akan kulink di blog bukuku, hehehehe….
    wah review yang bagus nih, terutama tentang Miss Lydgate. Tokoh ini sangat tidak realistis ya? sama tidak realistisnya dengan tokoh Liebermann sendiri 🙂

    Reply

  2. link exchange with me

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: